Perempuan Peka Humor Mampu Menangkal Bully?

 
 
Menangkal Bully dengan Humor
Novrita Widiyastuti, Dosen Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR
KASUS kekerasan verbal terhadap perempuan berplatform grup WhatsApp--sayangnya--kembali terjadi. Terakhir di sebuah perusahaan yang menjadikan salah satu karyawannya sebagai model pada materi promosinya. Karyawan tersebut, yang kebetulan menggunakan baju terbuka, difoto dari arah belakang, tanpa persetujuannya. Kemudian foto dengan bagian punggung agak terbuka, sehingga terlihat sedikit pakaian dalamnya, diunggah ke grup WhatsApp dan dikomentari rekan-rekannya dengan muatan seksual dan cabul. 
 
Tidak cukup sampai di situ, foto lainnya yang terlihat biasa-biasa saja, juga tanpa persetujuan korban, diunggah di grup tersebut dan kembali menuai komentar bernada penghinaan. Selain mengalami pelecehan seksual, tapi juga merupakan kekerasan dari komentar rekan-rekan kerjanya--di antara mereka ada pula perempuan. Dalam hal ini korban mengalami perundungan verbal. 

Bahkan masuk ke kategori verbal rape. Ciri-ciri verbal rape yaitu apabila khalayak yang membaca atau mendengarnya jadi membayangkan pernyataan yang bermuatan sensual tersebut (Fakhri, 2022).

Contoh kasus perundungan verbal di atas adalah fenomena gunung es. Contoh di tingkat mikro dapat ditemukan dari hasil prariset Ihik3 bekerja sama dengan Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR di bulan Juni 2022 kepada 34 perempuan dari berbagai kota di seluruh Indonesia, termasuk di antaranya dua perempuan dari New Zealand dan Kairo.

Dari 34 orang responden yang mengisi prariset, ada 19 orang atau lebih dari 50 persen di antaranya, mengaku pernah mengalami kekerasan verbal. Dari mulai body shaming seperti diledek gemuk dan bongsor, menerima perkataan kasar dan vulgar, difitnah, direndahkan kemampuannya hingga cat calling.

Efek dari kekerasan verbal, dari perundungan hingga verbal rape, adalah kecemasan, insomnia, stres, depresi bahkan percobaan bunuh diri. Dampak ini diperparah dengan lingkungan yang tidak berpihak kepada korban dengan mengatakan: “Ooh ga sampe disentuh kan?”.

Walaupun tidak sampai ada sentuhan, kekerasan verbal bisa dianalogikan seperti pohon yang dahannya patah diterpa badai. Badainya selesai, dahan pohon tersebut akan tetap patah dan tidak akan kembali seperti semula.

Menurut Grace Wattimena, dosen LSPR pada sebuah sesi pengabdian masyarakat berjudul “Perempuan: Tangkal Bully dengan Humor” (2022), merespon bully adalah dengan interaksi. Tindakan perundungan sebaiknya tidak dibiarkan atau didiamkan begitu saja. Pelaku sebagai pengirim pesan perundungan perlu direspon oleh korban sebagai penerima pesan melalui suatu interaksi. Interaksi ini sebagai respon nyata untuk menunjukkan kekuatan diri. Bentuk interaksi sosial tersebut adalah dengan humor.

Menurut Chovanec (2017), humor sebagai suatu sarana interaksi antara penutur dan lawan tutur. Humor bukan hanya sekedar mengundang tawa orang lain, tetapi juga sebagai bentuk komunikasi. Ditambahkan pula oleh alm. Prof James Danandjaya, humor juga adalah saran penyalur perasaan yang menekan diri seseorang dan juga alat bertahan yang terbaik (menurut Allen Klein).

Sesuai dengan pernyataan para ahli di atas, maka perempuan sebagai pihak yang sering menjadi korban perundungan verbal, perlu dibekali dengan kepekaan humor. Humor di sini bukan untuk mengecilkan kejadian bully itu sendiri, namun untuk membuat perempuan menggunakan humor sebagai alat perlindungan diri, bahkan menjadi vaksin bagi mentalnya.

Perempuan yang memiliki kepekaan humor karena sudah terbiasa menggunakannya, ketika menemui hal yang janggal bagi dirinya, ia akan menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu. Walaupun tidak selalu harus tertawa terbahak-bahak, cukup menertawakannya dalam hati, hormon bahagianya sudah keluar sehingga ia dapat bertahan dan tidak mudah sakit hati.

Kepekaan humor sendiri dapat dipelajari dan dilatih. Ada tiga cara yang sebaiknya dilatih oleh perempuan:

  1. Read Humor: perbanyaklah membaca, mendengar dan menonton acara yang bermuatan humor. Atau, jika ada teman yang lucu, dekatilah dan serap energi lucu darinya.
  2. Think Humor: apabila kita sudah read humor, maka otak kita akan terbiasa untuk berpikir humor dan dapat melihat suatu kejadian—apalagi yang janggal—dari sisi lucunya, sehingga bully yang mungkin menimpa tidak mampu membuatnya ‘kena mental’.
  3. Create Humor: walaupun tidak wajib, namun apabila banyak mempraktikkan read dan think humor, maka biasanya kita akan menjadi lebih mudah berpikir kreatif dan menciptakan humor.


Walaupun kita sudah melatih kepekaan humor, apabila pelaku kekerasan verbal tersebut memang sudah melanggar hukum, kita tetap wajib mengambil tindakan seperti melaporkan ke pihak berwenang seperti HRD atau bahkan ke kepolisian agar tindakan itu tidak berlanjut atau menjadi hal normal. Namun paling tida, dengan kepekaan humor, dahan yang diterpa badai di atas tidak patah dan tetap berdiri tegak.

 

Novrita Widiyastuti, Dosen Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR

 
***
Webinar “Perempuan: Tangkal Bully dengan Humor”, tgl 25 Juni 2022, dengan pembicara: Novrita Widiyastuti, Grace Heidy Wattimena dan Emilya Setyaningtyas dari Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR dan moderator: Yasser Fikry dari IHIK3. Video dapat dilihat di: https://youtu.be/Zf0rxd8X7Ao

 



Post a Comment

Previous Post Next Post