Keresahan Bintang Emon di Somasi

Bintang Emon meluapkan keresahannya di acara Somasi. (Foto: YouTube Deddy Corbuzier)


Jakarta, Humoria - Panggung Stand Up Comedy Academy seolah membuka jalan kesuksesan bagi siapa pun yang berhasil membuat tertawa para penonton. Salah satunya adalah Bintang Emon. Menjuarai SUCA 3 tahun 2017, jalan menjadi entertainer terbentang luas. 


Pria kelahiran Jakarta 5 Mei 1996 ini membintangi film layar lebar perdananya, yang disutradarai oleh Ernest Prakasa, berjudul Milly dan Mamet. 


Pemilik nama asli Gusti Muhammad Abdurrahman Bintang Mahaputra ini tak hanya mengandalkan jalan entertainment secara konvensional, dirinya pun aktif di beberapa sosial media seperti Twitter dan Instagram. 


Banyak videonya membicarakan mengenai kondisi terkini yang sedang terjadi di tanah air. Konten instagramnya yang viral adalah DPO, atau Dewan Perwakilan Omel-omel. 


Bintang Emon belum lama ini menjadi perhatian publik lagi setelah tampil di YouTube Deddy Corbuzier. Bintang Emon diundang sebagai bintang tamu oleh Deddy Corbuzier untuk mengisi acara yang berjudul Somasi. 


Somasi sendiri merupakan acara yang ada di konten YouTube Deddy Corbuzier. Acara tersebut mengenai keresahan atau kritikan yang dialami setiap komika. Kali ini Bintang Emon yang diundang sebagai bintang tamu. 


Bintang Emon ini memang telah dikenal sebagai salah satu komika yang peduli dengan dinamika sosial politik dalam negeri. 


Dalam acara itu, Bintang Emon sendirian menyampaikan beberapa materi yang mengkritik pejabat, mulai dari polisi yang menjadi Ketua Umum PSSI, harga minyak, hingga tidak takutnya pejabat akan sumpah di bawah Al-Quran.



"Keresahan gua yg pertama, kenapa polisi bisa jadi ketua PSSI, ya?" kata Bintang Emon dikutip penulis dari YouTube Deddy Corbuzier. 


Meski demikian, menurut komedi ternama Indonesia itu, nggak ada salahnya juga. Cuman, kalau berpikirnya memakai logika, ya, bisa jadi pemain Persija, Ismed Sofyan jadi kapolri. 


"Nggak ada  yang masalah, nggak salah juga. Mimpin pemain bola gak apa gak ada yang salah juga. Cuman kalau pakai logika yang sama, harusnya Ismed Sofyan bisa jadi Kapolri, dong," sambung Bintang Emon. 


Keresahan kedua Bintang Emon mengenai kasus minyak goreng yang belum lama ini sempat langka.  


"Ya menurut gua, kalo kritik pake solusi itu ribet gak ada yang mau kritik, contohnya aja kasus kemaren minyak goreng," ujar Bintang Emon. 


Ia juga menyebutkan sebagai rakyat hanya bisa mengkritik. 


"Gue ingetin, kekuatan rakyat memang tipis, cuma kritik doang, apa pun ada konsekuensi hukumnya," ucap Bintang Emon. 


Lanjut lebih dalam, di Indonesia lumrah halnya memakai Alquran untuk prosesi sumpah jabatan. Bintang Emon pun tak setuju dengan kebiasaan ini. 


"Karena gua sedih ke Alquran-nya, takutnya dipakai sumpah ke orang yang sebenarnya gak takut sama Alquran. Kasusnya soalnya udah ada, Alquran dikorupsi. Alquran, lho, dikorupsi! Langsung dari Allah sebagai pedoman umat muslim, dikorupsi. Maksudnya, lu kalau mau korupsi yang lain banyak, kenapa Alquran?" sentil Bintang Emon. 


Meski ada beberapa akun Twitter yang menganggap materi itu sebagai serius, kebanyakan warganet membela Bintang dan mengapresiasi keberaniannya untuk menyuarakan pendapat banyak orang melalui komedi. 


"Gue dari awal tuh suka sm anak ini @bintangemon i mean, dia ganteng & bs aja pilih profesi lain yg 'aman' tapi dia milih utk jd komika dan mengkritik lewat cara dia sendiri No offend lha harusnya buat yg disindir Bintang Emon -- I Love ❤️ You," komentar @alieef***tra. 


"Gw bukan penggemar bintang emon, tapi menurut gw gak ada yg perlu dipermasalahkan dgn isi materi lawakan dia. Lanjutkan mon, jalan lu udah benar," dukung @k***szy. 


"Yang dikritik Bintang Emon justru Statuta dan Aturan dalam kongres-nya itu. Logika peserta Kongresnya pada ga bener! Wkwk," koreksi @bo***npahme. 


"Lu abis di suspend langsung serius amat min, namanya juga jokes. Lu kira bintang emon setolol itu gatau syarat jd Kapolri itu anggota polri?" komentar @ash***hair. 


Nama Bintang Emon pun jadi tranding topic di Twitter hingga saat ini, berkat materinya yang dianggap mewakili suara masyarakat.


(Marissa Sabrina)

Post a Comment

Previous Post Next Post