Lawakan Komeng dan Kegerahan Gen-Z

 

Lawakan Komeng membuat gerah generasi Z. (Foto: Dok. Humoria)


Jakarta, Humoria - Nama Komeng tiba-tiba mencuat jadi perbincangan hangat di jagat Twitter. Sejak Rabu malam lalu sampai Kamis siang, komedian bernama lengkap Alfiansyah Busyami yang piawai nyeletuk ini sempat berada di puncak popularitas dengan jumlah delapan ribu lebih cuitan. 


Viralnya nama Komeng terjadi setelah seorang pengguna TikTok mengunggah video reaksi atas lawakan Komeng pada program talk show The Sultan, yang disiarkan SCTV pada Rabu malam (11/1) pukul 23.15 WIB. 


Postingan TikTok itu banyak ditonton dan kebanjiran komentar sehingga seketika mendapat predikat "fyp". 


Mengunggah video close up wajah dengan ekspresi keheranan, pemilik akun itu menyematkan kalimat: Barusan denger orang ngelawak di tv bilang, "Anak cewek saya kasian pak nanti ada yang intip. Daripada diintip orang, mending saya yang ngintip." Kini, video itu sudah tak terlihat lagi setelah viral. 



Video itu memang tak menyebut Komeng, tapi banyak orang tahu, saat tampil di The Sultan, Komeng memang sempat melontarkan kalimat itu dalam dialog bersama Marchel. 


Sebelumnya, ada adegan bintang tamu yang berperan sebagai anak Komeng, diperankan Desy Genoveva, pamit hendak buang air kecil. Komeng pun menyusul Desy yang langsung ditanya Marchel. 


"Bapak mau kemana?" tanya Marchel kepada Komeng. 


"Saya mau jagain anak saya," sahut Komeng. 


"Jagain anak bapak?" tanya Marchel lagi. 


"Takut ada yang ngintip, orang lain," Komeng menyahut lagi. 


"Tapi kan bisa lewat depan Pak. Kenapa lewat belakang?" tukas Marchel. 


"Daripada orang lain yang ngintip, mending bapaknya yang ngintip." kata Komeng. 




Kalimat terakhir Komeng itulah yang kemudian hangat diperbincangkan, mengundang banyak komentar warganet, baik di TikTok, Twitter, dan YouTube. Ada yang merasa jengah, tak sedikit pula yang menganggap hal itu bukan masalah besar. 


Pro Kontra Antargenerasi 


Di Twitter, pro kontra komentar memang bersahutan. Masing-masing punya pendapat sendiri-sendiri. 


"Gila bs ya kasus kyk gini dijadiin jokes. Udh ga sehat sih indo mana memnag di kasus ini setiap korban jg psti selalu kalah denagan alasan "salah sendiri" EMOSI BGT," cuit pemilik akun @mr***oey 


Lain lagi dengan cuitan @veeral***online. "kalo liat clipnya kaya sarkas sih tapi tetep aja kaget anjir serem dan ga lucu samsek. ga di saring bgt dah. even tho kalau dia emang niatnya sarkasin predators tetep aja sih ga bener juga bc that's a very inappropriate way to do that." 


Begitu pula pemilik akun @i***an. "Kenapa dalam hidup selalu cewe yang  diperlakukan tdk adil, selalu aja ada bahayanya, dari diperkosa, dilecehin, sampe yg lain lain. Dari sini harus nya cewe cewe harus paham. Bnyk cowo yg jahat. Ati ati ya, semoga Allah selalu melindungi kalian." 


Atau @gak***ksng: "jadi ini ngelawak apa ngesarkas? ada dua sudut pandang yg berbeda nih gua liat. tapi kalo ini ngelawak tanpa unsur menyindir kasus kekerasan atau penc****** yg sekarang marak terjadi, gak bisa di diemin ini. udah termasuk sexual harassment. 


Ada pula yang mendukung Komeng. Di antaranya @Xxl***ki4. 


"yg komen di sini rata2 pada tanya "yg ngomong siapa?". anjir kalian lahir tahun berapa? gue udah dengar lawakan komeng di radio SK thn 93. dari dulu tipe lawakan komeng memang begini. tapi kalau ada yg merasa ini "pelecehan verbal" lapor aja ke KPI biar jelas." 


Akun @pec***usenja juga menganggap lawakan Komeng tak masalah. "biasanya lawakan itu keluar dari keresahan pelawak atas apa yang terjadi di sekitarnya. mayoritas isinya satire gitu kan. ini sebenernya kritikan loh:(" 


@davit***aba "Wkwkwk ,padahal kata2nya pakai "bapak" bukan "saya" isu yg lg rame kan bapak pelecehan ke anak ,ni gak sekalian joke2 komeng ke adul n daus mini di angkat lg dah tuh sekalian dimasalain bodi seming , bener2 nih gen z ribet bet dah ,mending dengerin kunto aja yg rehat sono." 


Bahkan, @rusty***lddude, berbalik mengkiritik generasi Z yang gerah karena dianggap berlebihan. "Dear gen z, ini namanya komedi satire, tujuannya buat nyindir hal hal yg lagi hangat terjadi, contohnya diluar buanyak banget, salah satunya skit SNL tentang pelecehan seks murid oleh gurunya di US kaya gini: https://t.co/2HF5erFl2s" 


Dark Comedy yang Segmented 


Kontroversi lawakan Komeng boleh jadi termasuk dalam ranah dark comedy atau komedi gelap. Indikasinya, tak semua orang menganggap guyonan Komeng lucu, bahkan melahirkan ketersinggungan karena dianggap berbau pelecehan. 


Komedi hitam memang genre yang kerap menyajikan hal yang dipandang tabu bagi sebagian kalangan. Lazimnya, komedi jenis ini dibahas dengan cara yang ringan sebagai bahan lucu-lucuan. 


Satu hal yang tak mudah, tak setiap orang bisa mencerna dark comedy. Menurut Yasser Fikri, peneliti kajian humor Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3), dalam dunia komedi harus ada kesamaan pemikiran antara komedian dengan penikmatnya. Karena lelucon jenis dark comedy masih dianggap segmented. 


”Di komedi itu ada hukum kesetaraan. Frekuensi itu harus sama. Nah, untuk kamu dark comedy bisa diterima. Untuk usia saya, dark comedy belum tentu bisa diterima,” kata Yasser. 


Kemunculan komedi gelap di Indonesia, tak lepas dari gencarnya program stand up comedy di hampir semua stasiun televisi. Banyak pro dan kontra mengenai pembuatan konten dark humor ini, karena lelucon yang dibahas sangatlah berbeda dengan bahan lawakan orang pada umumnya. 


“Lagi-lagi di Indonesia dark komedi hanya diterima di kalangan usia-usia tertentu. Tidak semua usia bisa menerima,” kata Yasser. 


Sebagai akademisi, Yasser mencermati, para komedian menganggap hal yang tabu dan menakutkan malah dijadikan sebagai bahan guyonan. Misalnya lelucon mengenai kematian, bencana alam, pembunuhan hingga disabilitas. 


”Ketika orang yang kepalanya ditembak, maaf, kamu bisa ketawa. Nah aku, serem banget tuh orang. Aku tidak bisa nerima, dia bisa nerima. Itu dark komedi.” Yasser mencontohkan. 


Keberadaan dark jokes, menurut Yasser yang juga dosen komunikasi malah menjadi suatu fenomena generasional. Artinya, hanya kelompok usia tertentu yang memahami candaan dalam dark jokes. Humor bisa terjadi saat ada gap antara situasi dan bahan yang dijadikan candaan. 


”Tapi untuk aku, karena aku mendalami komedi dari sisi akademis, ada literaturnya, aku membaca, melakukan riset dan hal itu yang tidak pernah dilakukan oleh pelawak," kata Yasser. 


Terlepas dari pro-kontra dark comedy, Yasser belum bisa menilai apakah dark comedy merupakan candaan yang layak atau tidak layak. Ini disebabkan, harus ada kajian terlebih dahulu terkait jenis komedi ini lebih dalam. 


”Kalau ditanya, bisa tidak dipakai? Lihat dulu publiknya. Kalau tidak bisa, mendingan jangan. Nanti bukannya dibilang lucu malah dimaki-maki orang,” pungkas Yasser. 


Yasser benar, ketidakseragaman pemahaman memang membuat dark comedy justru memantik kontroversi, seperti lawakan Komeng tersebut: bagi generasi yang disebut-sebut sebagai generasi Z (lahir antara 1997 sampai 2012) dianggap tabu, tapi dianggap biasa-biasa saja bagi generasi lainnya. 


(Arya Brajadenta)

Post a Comment

Previous Post Next Post