Ginanjar, Dakwah, dan Naluri Melawak


Jakarta, Humoria - Ginanjar adalah satu dari banyak komedian tanah air yang takzim beribadah. Jauh sebelum terkenal, personel grup lawak 4 Sekawan ini boleh dibilang sebagai "tokek langgar", karena rutinnya dia salat berjemaah di masjid. 


Bahkan, Ginanjar mengaku kepada Humoria, awal mula dekat dengan Derry Sudarisman pun karena kerap berjumpa di musala, di kawasan Pal Batu, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan. 


Lebih dari tiga tahun lamanya, Ginanjar bersama rekan sesama pelawak membentuk kelompok pengajian yang berisi kajian-kajian Islam. Namanya Majelis Pengajian Pelawak. 


Ginanjar mengaku kegiatan itu memberikan dampak positif untuk dirinya sendiri. Dia merasa bersyukur karena diberi kesempatan untuk berkumpul dengan orang-orang yang dianggapnya baik dan memberikan pengaruh baik pula untuk kehidupannya. 


Seiring rutinnya ikut dalam pengajian, komedian bertubuh mungil itu pun kerap diminta berdakwah. 


Bagi Ginanjar, tugas untuk menyiarkan agama bukan hanya untuk ustaz atau kyai. Siapa pun bisa menjadi pendakwah, termasuk pelawak. Kendati demikian, dia enggan disebut sebagai pendakwah, dai, atau ustaz. 


"Saya mah bukan ustaz, (tapi) murtad. Murid Ustaz," kata Ginanjar kepada Humoria, sambil memaparkan bahwa dirinya memang kerap diminta tampil bicara di depan jemaah sambil menunggu dai atau ustaz datang. 


Menyelami dunia agama, tak membuat Ginanjar melupakan dunia yang membesarkan namanya. 


Pelawak kelahiran 5 Agustus 1964 ini, terjun menjadi komedian karena hobi, yang menjelma menjadi profesi. 


“Karena berangkatnya dari hobi kemudian jadi profesi. Kalau profesi berarti kerjaan. Bekerja dengan apa yang kita cintai kan tidak terasa capek," kata Ginanjar. 


Perjalanan Ginanjar menjadi komedian berawal ketika duduk di bangku SMP. Ginanjar yang pemalu, pada akhirnya, seperti pengakuannya, nekat bertindak malu-maluin. 


Saat itu, Ginanjar bercerita, dirinya diminta tampil bersama teman-temannya oleh guru. Tapi dia tidak melawak, melainkan menyanyi. 


“Akhirnya sama guru disuruh tampil, awalnya waktu maju juga saya tidak melawak. Saya nyanyi, waktu itu ada penilaian pelajaran seni suara dianggapnya seru," kata Ginanjar. 


Saat bernyanyi itulah, tiba-tiba Ginanjar lupa lirik dan syair lagunya. Spontan, Ginanjar justru mengarang. Melihat Ginanjar mulai ngaco, teman-temannya pun langsung turun dan meninggalkan Ginanjar sendirian yang terus mengoceh. 


“Ketika saya nyanyi diringi musik, di tengah-tengah saya nyanyi saya lupa lagunya, syairnya lupa. Akhirnya saya ngarang aja sekena-kenanya. Teman-teman yang ngiringin pakai gitar melihat saya ngaco dia turun. Akhirnya saya ditinggal sendirian. Akhirnya saya ngoceh, deh," kata Ginanjar. 


Semenjak kejadian itu, Ginanjar sudah berani dan tidak lagi menjadi pemalu. Bila ada kesempatan untuk melawak, Ginanjar pasti akan melakukan dengan senang hati, sampai akhirnya kecanduan. 


“Akhirnya , setelah itu besok-besok disuruh lagi dan saya ketagihan bahkan kecanduan ngelawak. Gimana caranya kalau ada kesempatan saya pasti ngelawak. Sejak itu tumbuh keberanian," kata Ginanjar. 


Ginanjar pun mengajak Derry untuk melawak. Awalnya Derry tidak mau, tapi Ginanjar memaksa hingga untuk akhirnya Derry bersedia. 


“Setelah itu saya ngajak Derry. Kalau Derry teman satu kampung saya. Ketemunya di musala, di Pal Batu. Saya lihat Derry, lucu juga orangnya. Saya ajak, saya suruh nonton kebetulan teman saya tidak datang, saya suruh Derry. Walaupun dia nggak mau, akhirnya lucu juga karena dipaksa. Akhirnya saya dan Derry dari berteman di Musalaz bukan hanya main di lingkungan rumahz tapi kalau saya ada acara di sekolah, saya ajak Derry untuk ngelawak. Begitu juga Derry, akhirnya dia berani ngelawak," kenang Ginanjar, yang kini hidup bahagia bersama istri dan anak semata wayangnya. 


(Muhammad Farhan)

Post a Comment

Previous Post Next Post