Mengenang Tujuh Grup Lawak Legendaris

Jakarta, Humoria - Dari zaman ke zaman, Indonesia tak pernah kekurangan komedian. Meski trend melawak saat ini terus berkembang, dari lawakan grup menjadi tunggal, tak bisa dipungkiri selalu saja ada manusia-manusia lucu yang mengisi jagat hiburan tanah air.


Sejarah komedi di Indonesia mencatat, sejumlah grup lawak pernah begitu moncer menghiasi layar kaca dan radio. Setidaknya ada tujuh grup lawak yang pernah mencapai kejayaan di masanya:


1. SRIMULAT


Grup lawak Indonesia paling legendaris ini didirikan oleh Teguh Slamet Rahardjo periode tahun 1960-an. Awalnya, Srimulat adalah pertunjukan musik yang disisipi drama komedi. Bukan hanya lawakan, tetapi cerita tradisional seperti ludruk, ketoprak, janger, kentrung, lenong dan drama tradisional lainnya.

 

Teguh Srimulat (Tengah) bersama anggota Srimulat. (Foto: dok. Kompasiana)

Tidak ada grup lawak di Indonesia yang sanggup bertahan begitu lama menghadapi terkaman perubahan zaman tanpa mengubah konten lawakan. Srimulat  patut diacungi jempol karena bisa bertahan hampir tiga dekade.


Dimulai dari periode 1960-an hingga 1990-an Srimulat melahirkan banyak  pelawak beken dengan karakter khas masing-masing.


Beberapa pelawak kondang yang dilahirkan oleh Srimulat di antaranya adalah: Gepeng, Paimo, Asmuni, Basuki, Kadir, Tukul, Doyok, Nunung, Tessy, Gogon, Mamiek, Tarzan, Polo. Meski grup lawak ini telah bubar, para personelnya masih sering manggung bersama. Tidak jarang, identitas Srimulat masih mereka gunakan


Pada masa jayanya, nama-nama seperti Asmuni, Paimo, Tarsan, Pete, Bandempo, Gepeng, Djudjuk, Timbul, Tessy, Mamiek Prakoso, Pak Bendot, Betet, Subur, Bambang Gentolet, Karjo AC-DC, Triman, Paul, Nurbuat, Rohana, Polo, Basuki, Kadir, Eko, Gogon, Topan–Leysus, Doyok hingga ke generasi Nunung dan Tukul adalah mereka yang dekat dengan para penggemarnya.


2. WARKOP DKI


Di era 1980-an dan 1990-an, Warkop DKI bisa dibilang grup lawak Indonesia paling sukses. Dinamakan Warkop DKI karena ketiga personelnya membawakan salah satu acara di Radio Prambors bertajuk Warkop alias Warung Kopi. Sedang DKI kependekan dari para personenya yaitu Dono, Kasino dan Indro. 

 

Warkop DKI, Dono Kasino Indro. (Foto: dok. Instagram)

 

Humor cerdas dan lawakan menyentil pemerintah serta menyerempet pornografi menjadi andalan Warkop DKI yang sangat digemari khalayak saat itu.


Selain di radio, kemunculan film mereka selalu ditunggu. Warkop DKI melejit lewat film-film konyol yang mengandalkan komedi "kecelakaan" lucu dan cewek berbusana minim. 


Meski demikian, semua anggotanya adalah orang-orang cerdas yang lulus dari universitas ternama. Dari ketiga personel Warkop DKI, saat ini hanya Indro yang masih tersisa.


Kasino meninggal dunia tahun 1997 karena tumor otak dan Dono menyusul di tahun 2001 karena penyakit kanker yang diderita.


Dari semua grup lawak legendaris, Warkop adalah satu-satunya yang eksis hampir di semua media. Dari lawakan panggung, radio, televisi serta layar lebar dan tak pernah kehilangan penggemarnya hingga akhir hayat para punggawanya.


3. BAGITO


Grup lawak Indonesia satu ini mengawali karirnya sebagai penyiar radio humor Suara Kejayaan tahun 1990-an. Bagito kependekan dari Bagi Roto atau Bagi Rata, digawangi kakak beradik Miing (Dedi Gumelar) dan Didin (Didin Pinasti) serta Unang. Kepopuleran mereka dimulai dari beberapa kali acara panggung dan siaran rutin BasoSK (Bagito Show Senyum & Ketawa) di radio SK. 

 

Bagito Grup (Foto. Dok. Instagram)

 

Bagito mencapai puncak kejayaannya saat mengisi acara komedi Bagito Show di salah satu televisi swasta sekitar tahun 1990-an. Bagito merupakan acara humor terlaris waktu itu. Mereka menjadi grup lawak paling mahal se-Indonesia hingga mencapai 1 milyar rupiah. Harga ini bisa dimaklumi karena Bagito Show memperoleh rating cukup tinggi dan bertahan cukup lama di layar kaca.

 

Pembagian peran dalam Bagito Group biasanya, Miing sebagai orang kampung yang ngotot, Didin sebagai anak orang kaya yang bertugas menjadi pemberi umpan banyolan dan Unang sebagai tokoh kekanak-kanakan yang multitalenta.

 

4. KWARTET JAYA


Sama seperti Warkop DKI, grup lawak Indonesia yang satu ini selain melawak di atas pentas, juga laris di sejumlah film. Kwartet Jaya dibentuk tahun 1967 dengan personel Bing Slamet, Eddy Sud, Ateng, dan Iskak. Kwartet Jaya terkenal di era 70-an. Bing Slamet merupakan seniman serba bisa yang merajai panggung hiburan di era 1950 hingga 1970-an. 

 

Kwartet Jaya (Foto. Dok. Instagram)

 

Sepeninggal Bing pada tahun 1974, Kwartet Jaya bubar, namun ketiga personelnya terkadang masih sering mentas bersama. Ateng dan Iskak tetap menekuni dunia komedi hingga akhir hidupnya. 


Duo pelawak terkenal ini bermain di televisi nasional sebagai Petruk dan Bagong dalam acara Ria Jenaka tahun 1990-an. Eddy Sud sempat banting stir dengan menjadi produser untuk sejumlah acara musik di televisi. Salah satu yang fenomenal adalah acara musik Aneka Ria Safari. Semua personel Kwartet Jaya telah meninggal dunia. Bing tahun 1974, Iskak tahun 2000, Ateng tahun 2003 dan Eddy Sud tahun 2005. 

 

5. JAYAKARTA GROUP


Siapa tidak kenal Jojon? Jojon sebagai maskot Jayakarta Group, dikenal dengan penampilan khasnya: celana panjang kedodoran yang diangkat naik sampai perut, baju warna-warni bermotif ceria, rambut poni dan kumis kotak ala Charlie Chaplin.

 

Jayakarta Group. (Foto: Dok. Instagram)


Formasi dari Jayakarta Group adalah Cahyono yang biasa berperan sebagai pengumpan dan pembuka bahan komedi. Jojon, sang maskot. Prapto yang sering berperan sebagai perempuan bernama Esther dan Uuk yang sering kebagian peran sebagai preman, dengan nada suaranya yang tinggi dan khas serta wajah Arab-nya yang unik.


Jayakarta Group merupakan salah satu grup lawak Indonesia yang pernah jaya di masanya. Sepeninggal Uuk dan Esther yang wafat mendahului rekan-rekannya, kelompok ini pun tenggelam. Jojon masih setia di lapak komedi hingga akhir usianya, sedangkan Cahyono memilih jalur religi dan pulang ke kampung halamannya di Banyuwangi, Jawa Timur. 


6. BAGIO CS


Pelawak  S. Bagio adalah komedian sejati. Beliau tak pernah menyerah berkecimpung di dunia hiburan, meski bongkar pasang kelompok. Bagio pernah bergabung dengan Ateng dan Iskak, Eddy Sud dan juga Bing Slamet. 

 

Bagio Cs (Foto: dok. YouTube)


Namun, Bagio paling terkenal saat ia bergabung dengan Darto Helm, Diran dan Sol Saleh. Bagio Cs mendapat tempat di hati publik sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an. 

 

Dalam kelompoknya, Bagio mendapat peran sebagai tokoh yang latah dan sok tahu. Sol Saleh sebagai pengumpan yang netral. Darto Helm sebagai pribadi yang grusa-grusu dan Diran sebagai sosok yang pintar-pintar bodoh. Keempat personel grup ini telah meninggal dunia. Bagio wafat tahun 1993, Diran wafat tahun 1996, Sol Saleh tahun 2002 dan terakhir Darto Helm tahun 2004.

 

7. D’BODORS


Tidak banyak grup lawak yang bisa bertahan bertahun-tahun dengan bermodalkan materi tradisional. Kelompok lawak D’Bodors, salah satunya. Beranggotakan Abah Us Us , nama aslinya Raden Achmad Yusuf Wargapranata, Yan Asmi (Uyan Suryana) dan Engkus (Kusye). Abah Us Us identik dengan peniti raksasanya, Yan Asmi yang selalu membawa gitar dan Engkus bertubuh kecil dan lincah. 

 

D'bodors (Foto: dok. Cover Kaset)

Meski trio pelawak asal Sunda ini lama vakum, peran mereka di dunia komedi tak terlupakan. Ketiganya penuh bakat, cerdas sekaligus menghibur dan tetap berpegang pada budaya Sunda yang kental. Komedi musik yang mereka usung tak lekang oleh zaman. 


Ini dibuktikan dari penampilan mereka tahun 2010 di acara Zona Memori tanyangan Metro TV. Walaupun sudah dimakan usia, mereka masih tetap sanggup mengocok perut dengan banyolan khasnya. 

 

Sayangnya, tak lama setelah penampilan terakhir di TV swasta tersebut, Yan Asmi meninggal dunia pada 29 Maret 2010. Menyusul rekannya, Abah Us Us wafat pada 8 Mei 2010. (Dian Wahyudi/aba/dari berbagai sumber)

Post a Comment

Previous Post Next Post